Thursday, 22 December 2016

Artikel PJK (Penyakit Jantung Koroner) (Pengertian, Penyebab, Gejala, Diagnosis, Faktor Risiko, Pengobatan PJK)

PJK (Penyakit Jantung Koroner)
A. Pengertian
Penyakit jantung koroner adalah gangguan yang terjadi pada jantung akibat suplai darah ke Jantung yang melalui arteri koroner terhambat. Kondisi ini terjadi karena arteri koroner (pembuluh darah di jantung yang berfungsi menyuplai makanan dan oksigen bagi sel-sel jantung) tersumbat atau mengalami penyempitan karena endapan lemak yang menumpuk di dinding arteri (disebut juga dengan plak). Proses penumpukan lemak di pembuluh arteri ini disebut aterosklerosis dan bisa terjadi di pembuluh arteri lainnya, tidak hanya pada arteri koroner. Arteri koroner adalah pembuluh darah di jantung yang berfungsi menyuplai makanan bagi sel-sel jantung.
Berkurangnya pasokan darah karena penyempitan arteri koroner menimbulkan rasa nyeri di dada (gejala ini dikenal dengan istilah angina). Umumnya hal ini terjadi setelah penderita melakukan aktivitas fisik yang berat atau saat mengalami stress. Bila arteri koroner tersumbat dan darah sama sekali tidak bisa mengalir ke jantung, penderita bisa mengalami serangan jantung, dan ini dapat terjadi kapan saja, bahkan ketika penderitanya dalam keadaan tidur. Penyakit jantung koroner menyebabkan kemampuan jantung memompa darah ke seluruh tubuh melemah. Dan jika darah tidak mengalir secara sempurna ke seluruh tubuh, maka penderitanya akan merasa sangat lelah, sulit bernafas (paru-paru dipenuhi cairan), dan timbul bengkak-bengkak di kaki dan persendian.

B. Penyebab Penyakit Jantung Koroner
Penyebab jantung koroner adalah karena penumpukan zat lemak secara berlebihan di lapisan dinding nadi pembuluh koroner, yang dipengaruhi oleh pola makan yang kurang sehat. Kecanduan rokok, hipertensi, kolesterol tinggi juga dapat menjadi penyebab penyakit jantung koroner.
Makanan mempengaruhi kadar kolesterol total dan karena itu makanan juga mempengaruhi resiko terjadinya penyakit arteri koroner. Merubah pola makan (dan bila perlu mengkonsumsi obat dari dokter) bisa menurunkan kadar kolesterol. Menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol LDL bisa memperlambat atau mencegah berkembangnya penyakit arteri koroner. Menurunkan kadar LDL sangat besar keuntungannya bagi seseorang yang memiliki faktor resiko berikut:
a)       Merokok sigaret
b)       Tekanan darah tinggi
c)       Kegemukan
d)       Malas berolah raga
e)       Kadar trigliserida tinggi
f)        Keturunan
g)       Steroid pria (androgen).
Penyakit arteri koroner bisa menyerang semua ras, tetapi angka kejadian paling tinggi ditemukan pada orang kulit putih. Tetapi ras sendiri tampaknya bukan merupakan faktor penting dalam gaya hidup seseorang.

C. Gejala Penyakit Jantung Koroner
Pada pria, gejala jantung pun dapat dilihat dari gangguan fungsi seksual serius dan kebotakan rambut. Kolesterol dan lemak berlebih dalam tubuh dikaitkan sebagai faktor pemicu gangguan jantung. Untuk itu, anda perlu mengetahui dan mewaspadai gejala serangan jantung yang muncul tiba-tiba:
a)         Tiba-tiba sakit di bagian dada dibelakang tulang dada atau seperti sesak dada.
b)         Nyeri dada bisa berulang beberapa menit (20 menit atau lebih).
c)         Rasa nyeri bisa berupa tekanan di bagian dada, dan leher seolah tercekik hingga menyebabkan keluar keringat dingin.
d)        Tiba-tiba pingsan, namun bisa kembali sadar. Ini terjadi karena ada gangguan irama jantung.

D. Diagnosis Penyakit Jantung Koroner
Dokter akan bertanya tentang riwayat kesehatan pasien penyakit jantung koroner, kemudian melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah rutin. Beberapa pemeriksaan dapat dilakukan untuk mendeteksi adanya penyakit jantung koroner, antara lain:
Elektrokardiografi (EKG), dengan pemeriksaan EKG dapat diketahui kemungkinan adanya kelainan pada jantung dengan tingkat ketepatan 40%.  Echocardiografi, dengan menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar jantung. Selama proses ini, dokter dapat menentukan apakah semua bagian dari dinding jantung berkontribusi biasa dalam aktivitas memompa jantung. Bagian yang bergerak lemah mungkin telah rusak selama serangan jantung atau menerima terlalu sedikit oksigen. Ini mungkin menandakan arteri koroner atau berbagai kondisi lain. Kateterisasi Koroner, untuk melihat aliran darah melalui jantung, dokter mungkin mnyuntikkan cairan khusus ke dalam pembuluh darah (intravena). Hal ini dikenal sebagai angiogram. Cairan disuntikkan ke dalam arteri jantung melalui pipa panjang, tipis, fleksibel (kateter) yang dilewati melalui arteri, biasanya di kaki, ke arteri jantung. Pewarna menandai bintik-bintik penyempitan dan penyumbatan pada gambar sinar-X.
Jika pasien yang diperiksa memiliki penyumbatan yang membutuhkan perawatan, balon dapat didorong melalui kateter dan ditiup untuk meningkatkan aliran darah dalam jantung. 

E. Faktor – faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner
1. Memasuki usia 45 tahun bagi pria.
Sangat penting bagi kaum pria untuk menyadari kerentanan mereka dan mengambil tindakan positif untuk mencegah datangnya penyakit jantung.
2. Bagi wanita, memasuki usia 55 tahun atau mengalami menopause dini (sebagai akibat operasi).
3. Wanita mulai menyusul pria dalam hal risiko penyakit jantung setelah mengalami menopause.
4. Riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Riwayat serangan jantung di dalam keluarga sering merupakan akibat dari profil kolesterol yang tidak normal.
5. Diabetes.
Kebanyakan penderita diabetes meninggal bukanlah karena meningkatnya level gula darah, namun karena kondisi komplikasi jantung mereka.
6. Merokok.
Resiko penyakit jantung dari merokok setara dengan 100 pon kelebihan berat badan - jadi tidak mungkin menyamakan keduanya.
7. Tekanan darah tinggi (hipertensi).
8. Kegemukan (obesitas).
Obesitas tengah (perut buncit) adalah bentuk dari kegemukan. Walaupun semua orang gemuk cenderung memiliki risiko penyakit jantung, orang dengan obesitas tengah lebih-lebih lagi.
9. Gaya hidup buruk.
Gaya hidup yang buruk merupakan salah satu akar penyebab penyakit jantung - dan menggantinya dengan kegiatan fisik merupakan salah satu langkah paling radikal yang dapat diambil.
10. Stress.
Banyak penelitian yang sudah menunjukkan bahwa, bila menghadapi situasi yang tegang, dapat terjadi arithmias jantung yang membahayakan jiwa. 

F. Cara Pengobatan Penyakit Jantung Koroner
Cara Pengobatan Penyakit Jantung Koroner
Pengobatan penyakit jantung koroner tergantung jangkauan penyakit dan gejala yang dialami pasien.
1.   Perubahan Gaya Hidup
Pola makan sehat dan seimbang, dengan lebih banyak sayuran atau buah-buahan, penting untuk melindungi arteri jantung kita. Makanan yang kaya lemak, khususnya lemak jenuh, dapat mengakibatkan kadar kolesterol tinggi, yang merupakan komponen utama kumpulan yang berkontribusi terhadap penyempitan arteri jantung.
Olah raga teratur berperan penting untuk menjaga kesehatan jantung. Olah raga membantu kita untuk menjadi fit dan membangun system sirkulasi yang kuat. Ini juga membantu kita menurunkan berat badan. Obesitas biasanya tidak sehat, karena mengakibatkan insiden hipertensi, diabetes mellitus, dan tingkat lemak tinggi menjadi lebih tinggi, semua yang dapat merusak arteri jantung.
2. Pengendalian faktor resiko utama penyakit jantung koroner
Diabetes melitus, merokok, tingkat kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi adalah empat faktor utama yang mengakibatkan resiko penyakit jantung koroner lebih tinggi.
Pengendalian keempat factor resiko utama ini dengan baik melalui perubaha gaya hidup dan/atau obat-obatan dapat membantu menstabilkan progresi atherosklerosis,dan menurunkan resiko komplikasi seperti serangan jantung.
3. Terapi Medis
Berbagai obat-obatan membantu pasien dengan penyakit arteri jantung. Yang paling umum diantaranya:
  1. Aspirin / Klopidogrel / Tiklopidin
Obat-obatan ini mengencerkan darah dan mengurangi kemungkinan gumpalan darah terbentuk pada ujung arteri jantung menyempit, maka dari itu mengurangi resiko serangan jantung.
  1. Beta-bloker (e.g. Atenolol, Bisoprolol, Karvedilol)
    Obatan-obatan ini membantu untuk mengurangi detak jantung dan tekanan darah, sehingga menurunkan gejala angina juga melindungi jantung.
  2.  Nitrates (e.g. Isosorbide Dinitrate)
Obatan-obatan ini bekerja membuka arteri jantung, dan kemudian meningkatkan aliran darah ke otot jantung dan mengurangi gejala nyeri dada.
  1. Bentuk nitrat bereaksi cepat, Gliseril Trinitrat, umumnya diberikan berupa tablet atau semprot di bawah lidah, biasa digunakan untuk penghilang nyeri dada secara cepat.
  2. Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors (e.g. Enalapril, Perindopril) and Angiotensin
Receptor Blockers (e.g. Losartan, Valsartan)
Obatan-obatan ini memungkinkan aliran darah ke jantung lebih mudah, dan juga membantu menurunkan tekanan darah. Obatan-obatan penurun lemak (seperti Fenofibrat, Simvastatin, Atorvastatin, Rosuvastatin). Obatan-obatan ini menurunkan kadar kolesterol ‘jahat’ (Lipoprotein Densitas-Rendah), yang merupakan salah satu penyebab umum untuk penyakit jantung koroner dini atau lanjut. Obat-obatan tersebut merupakan andalan terapi penyakit jantung koroner.
4. Intervensi Jantung Perkutan
Ini adalah metode invasif minimal untuk ‘membuka’ arteri jantung yang menyempit. Melalui selubung plastik ditempatkan dalam arteri baik selangkang atau pergelangan, balon diantar ke segmen arteri jantung yang menyempit, dimana itu kemudian dikembangkan untuk membuka penyempitan. Kemudian, tube jala kabel kecil (cincin) disebarkan untuk membantu menahan arteri terbuka. Cincin baik polos (logam sederhana) atau memiliki selubung obat (berlapis obat).
Metode ini seringkali menyelamatkan jiwa pasien dengan serangan jantung akut. Untuk penyakit jantung koroner stabil penyebab nyeri dada, ini dapat meringankan gejala angina dengan sangat efektif. Umumnya, pasien dengan penyakit pembuluh darah single atau double mendapat keuntungan dari metode ini. Dengan penyakit pembuluh darah triple, atau keadaan fungsi jantung buruk, prosedur bedah dikenal dengan Bedah Bypass Arteri Jantung sering merupakan alternatif yang baik atau pilihan pengobatan yang lebih baik.
5. Operasi Bedah Bypass Arteri Jantung (CABG)
CABG melibatkan penanaman arteri atau vena lain dari dinding dada, lengan, atau kaki untuk membangun rute baru untuk aliran darah langsung ke otot jantung. Ini menyerupai membangun jalan tol parallel ke jalan yang kecil dan sempit. Ini adalah operasi yang aman, dengan rata-rata resiko kematian sekitar 2%. Pasien tanpa serangan jantung sebelumnya dan melakukan CABG sebagai prosedur elektif, resiko dapat serendah 1 persen. Operasi biasanya dilakukan melalui sayatan di tengah dada, ahli bedah memilih untuk melakukan prosedur dengan jantung masih berdetak, menggunakan alat khusus yang dapat menstabilkan porsi jantung yang dijahit. Operasi Robotik Sebagai tambahan, juga mulai melakukan CABG melalui program operasi robotic. Penggunaan instrument ini sekarang membolehkan operasi untuk dilakukan menggunakan sayatan kecil keyhole di dinding dada.
Metode ini menghasilkan pemulihan lebih cepat, mengurangi nyeri, dan resiko infeksi luka lebih rendah. Namun, ini sesuai untuk bypass hanya satu atau dua pembuluh darah.
Revaskularisasi Transmiokardia
Untuk pasien dengan pembuluh darah yang terlalu kecil untuk melakukan CABG, prosedur disebut Revaskularisasi Transmiokardia juga tersedia di NHCS.
Pada prodesur ini, laser digunakan untuk membakar banyak lubang kecil pada otot jantung. Beberapa lubang ini berkembang ke pembuluh darah baru, dan ini membantu mengurangi angina.

G. Pencegahan Penyakit Jantung Koroner
Pencegahan Penyakit Jantung Koroner yaitu:
  1. Jalani pola hidup sehat
  2. Hindari dan berhenti merokok
  3. Hindari makanan berkolestrol tinggi agar terhindar dari penyakit jantung koroner
  4. Luangkan waktu untuk berolahraga setiap hari atau menciptakan gerakan-gerakan kecil
  5. Istirahat teratur dan cukup
Dengan menghindari makanan berkolestrol dan berlemak adalah cara bijak untuk mencegah penyakit jantung koroner. Sebab lemak dan kolestrol inilah yang nantinya akan menutupi dinding pembuluh darah arteri yang memasok makanan ke jantung. Ketika anda telah di diagnosis mengidap penyakit jantung, sebaiknya untuk segera mencari pengobatan penyakit janntung koroner yang tepat. Dengan menggunakan bahan herbal seperti jus buah manggis atau produk obat jantung herbal yang banyak di temukan di toko obat. Dengan menggunakan obat berbahan herbal, tentunya akan sangat aman dan tanpa efek samping. Selain itu anda juga bisa segera memeriksakannya ke dokter secara medis.

DAFTAR PUSTAKA  
Elisabeth, Corwin J. 2009. Buku Saku Patofisiologi, Edisi Revisi 3. Jakarta. Buku Kedokteran EGC.

Christopher, Davidson. 2003. Penyakit Jantung Koroner. Jakarta: Penerbit Dian Rakyat. 

Sunday, 18 December 2016

Artikel Warna Darah Haid Bisa Indikasikan Kondisi Kesehatan Tubuh


Warna Darah Haid Bisa Indikasikan Kondisi Kesehatan Tubuh

Ternyata tak cuma warna air seni saja yang bisa mengindikasikan kondisi tubuh seseorang. Bagi wanita warna darah haid yang dikeluarkan ternyata juga bisa jadi petunjuk kondisi kesehatan tubuh. Mungkin memang sedikit menjijikkan bagi beberapa orang, namun dengan menganalisa warna darah menstruasi ini kamu bisa mendeteksi kondisi kesehatan dan bisa mencegah atau mungkin menanggulangi penyakit yang mungkin ada dalam tubuh.

Berikut ini adalah daftar lengkap warna darah haid dan apa artinya agar kamu bisa berjaga-jaga dan mengetahui kondisi kesehatan tubuh.

1. Jika warna darah menstruasimu merah cerah maka kamu dalam keadaan normal dan tak ada yang perlu dikhawatirkan Ladies. Mayoritas wanita mengalaminya pada awal siklus menstruasi mereka. Tapi ada yang harus diwaspadai Ladies, jika aliran darah berlebihan dan ada kram ekstra menyakitkan, bisa jadi ada yang bermasalah dengan alat reproduksimu.

2. Darah menstruasi coklat juga sering dialami oleh beberapa wanita. Ini dikarenakan suhu tubuh yang sedang tinggi Ladies. Ini perlu ditangani dan berkonsultasi dengan dokter jika terjadi dalam waktu yang cukup lama atau kesuburanmu bisa terganggu.

3. Beberapa wanita juga pernah mendapati darah menstruasi mereka yang berwarna hitam. Darah ini umumnya keluar menjelang akhir siklus menstruasi. Ini adalah darah yang disimpan terlalu lama. Biasanya ini sering terjadi pada wanita yang menderita endometriosis.

4. Beberapa wanita juga mengalami menstruasi dengan darah-darah yang menggumpal. Sedikit pembekuan darah selama menstruasi baik-baik saja tetapi ketika pembekuan tersebut berlebihan dan sering terjadi setiap menstruasi maka bisa jadi kamu tersebut memiliki fibroid. Ini berisiko menyebabkan masalah serius jika tidak dirawat tepat waktu. Segera konsultasikan dengan doktermu.

5. Jika kamu mengalami menstruasi dengan darah berwarna pink maka bisa jadi kamu kekurangan zat besi dan nutrisi yang masuk dalam tubuh tak seimbang Ladies. Bisa jadi ini adalah pertanda pencernaanmu yang tidak beres.

6. Apabila dalam satu siklus menstruasi kamu mengalami perubahan warna darah maka ini adalah indikasi bahwa ada ketidakseimbangan hormon tertentu. Hal ini bisa disebabkan karena stres, perubahan gaya hidup dan pola makan juga.

Itu tadi adalah beberapa informasi penting soal warna darah menstruasi yang ternyata mampu mengindikasikan kondisi kesehatan tubuh. Jika memang dirasa ada yang kurang beres maka segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Saturday, 17 December 2016

Artikel ISPA Infeksi Saluran Pernafasan Akut (Tanda, gejala, etiologi / penyebab, cara penularan, pencegahan, pengobatan ISPA)

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Istilah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mengandung 3 unsur, yaitu infeksi, saluran pernafasan dan akut. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme kedalam tubuh manusia dan berkembangbiak sehingga dapat menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernafasan adalah organ yang dimulai dari hidung hingga gelembung paru (alveoli) beserta organ adneksanya seperti sinus, rongga telinga, dan pleura. Sedangkan yang dimaksud dengan akut adalah kejadian yang berlangsung sampai dengan 14 hari.Jadi, ISPA adalah infeksi akut yang menyerang salah satu atau lebih bagian organ dari saluran pernapasan mulai dari hidung sampai alveoli termasuk adneksanya seperti sinus, rongga telinga, dan pleura.
ISPA masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian serius karena menyebabkan angka kematian bayi dan balita yang cukup tinggi.Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur < 2 bulan.ISPA sebagai penyakit menular tidak mengenal batas wilayah, bisa menular dari satu orang ke orang lain dan dapat menyebar dalam keluarga, kelompok masyarakat, bahkan negara. Maka perlu dilakukan penanggulangan dan pencegahan dari penyakit ISPA.

     Tanda gejala ISPA menurut Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PRSSI, 2002) antara lain:
1.  Batuk
2.  Serak (anak bersuara parau)
3.  Pilek
4.  Panas atau demam, suhu badan lebih dari 38,5 º C
5.  Sesak napas

B.  Etiologi (Penyebab) ISPA
1.  Etiologi ISPA terdiri dari lebih 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA      antara lain darin genus Streptokokus, Stafilokokus, Pnemokokus, Hemofillus, Bordetella        dan Korinobakterium. Virus penyebeb ISPA antara lain adalah golongan Mikosovirus,            Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus.
2.  Etiologi Pnemonia pada balita sukar ditegakkan karena dahak sukar diperoleh. Menurut        publikasi WHO bahwa penyebab pnemonia adalah Streptokokus pnemonia dan                    Hemopillus inluenzae (Warmasi, 2009).
                    
                Menurut Depkes RI (2004), faktor pencetus penyakit ISPA antara lain:
1.    Kuman Penyakit
Penyakit Pneumonia disebabkan oleh kuman penyakit. Beberapa kuman ini juga ditemui pada orang yang sehat, jika daya tahan tubuh melemah kuman ini dapat sebagai pencetus timbulnya penyakit.
2.    Daya Tahan Tubuh Penderita
Daya tahan tubuh penderita adalah kemampuan tubuh untuk mencegah masuk dan berkembang biaknya kuman di dalam tubuh. Daya tahan tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a.    Gizi
Gizi sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh. Anak dengan gizi kurang (buruk) akan lebih rentan terhadap terjangkitnya penyakit menular.
b.    Kekebalan tubuh
Bayi yang baru lahir biasanya mempunyai kekebalan terhadap penyait Difteri dan Campak sampai dengan usia 9 bulan. Kekebalan selanjutnya pada bayi harus ditimbulkan dengan memberikan imunisasi kepada bayi.
3.    Keadaan Lingkungan
Keadaan lingkungan berpengaruh terhadap terjadinya penyakit, termasuk penyakit Pneumonia. Adapun keadaan lingkungan yang berpengaruh antara lain:
a.   Rumah dengan jendela yang tidak memenuhi syarat menyebabkan pertukaran udara di dalam rumah tidak baik. Udara yang tidak baik seperti asap dapur, asap rokok, debu yang terkumpul dalam rumah, apabila dihisap oleh bayi kan memudahkan terjangkitnya penyakit ISPA.
b.   Rumah yang lembab dan basah, dimana kelembabannya cukup tinggi (>70%) mempermudah bayi terkena penyakit ISPA.
c.   Rumah yang padat dan kotor, menyebabkan kuman mudah menjalar dari satu tempat ke tempat lainnya, hal ini mempermudah bayi terkena penyakit ISPA.
4.   Umur dan Jenis Kelamin
Anak usia muda lebih sering menderita penyakit dari pada orang dewasa, sedangkan Balita dengan jenis kelamin laki-laki ternyata 1,5 kali lebih sering menderita penyakit Pneumonia di bandingkan Balita perempuan.
5.    Sosial Ekonomi
Tingkat sosial ekonomi yang rendah dalam keluarga pada umumnya berpengaruh tidak langsung terhadap terjadinya penyakit Pneumonia pada Balita.
6.   Musim
Musim kemarau dengan debu yang beterbangan dan udara yang dingin dimana sirkulasi udara didalam rumah tidak lancar, cendrung sebagai pencetus penyakit ISPA.
7.    Tingkat Pendapatan
Tingkat pendapatan serta tingkat pendidikan yang rendah akan menurunkan kualitas pencegahan dan pengobatan Balita yang menderita penyakit Pneumonia.

C. Cara Penularan ISPA
Penyakit ISPA tergolong pada Air Borne Disease yaitu penyakit yang menular melalui udara. Penularan dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Kontak langsung dapat terjadi antara host dan penderita melalui mulut, droplet, batuk dan bersin dari penderita yang terhirup melalui udara oleh host maupun kontak tidak langsung yaitu kontak dengan benda yang terkontaminasi oleh penderita (misalnya: tangan, sapu tangan dan peralatan makan).

D. Pencegahan ISPA
1. Sedapat mungkin batasi kontak dengan orang yang sakit. Tinggallah dikamar       yang berbeda, atau bila hal ini tidak memungkinkan, tinggallah sejauh mungkin     dari orang yang sakit, misalnya tidur di kasur atau kamar tidur yang terpisah,         bila memungkinkan.
2. Ruang bersama (WC,dapur,kamarmandi,dll.) harus berventilasi baik (misalnya       ventilasi alami, dengan selalu membuka jendela). Pembersihan lingkungan           sangat penting untuk mencegah penularan tak langsung, terutama di ruang           bersama.
3. Bila perawatan jarak dekat harus dilakukan kepada orang yang sakit, orang           yang sakit tersebut harus menutup mulut/hidungnya dengan tangan atau benda     lain (misalnya tisu, saputangan, atau bila tersedia, masker linen atau masker         bedah). Bila tersedia, keluarga yang merawat juga harus mengenakan masker   bedah atau alat pelindung terbaik yang ada untuk mencegah droplet pernapasan     saat berdekatan dengan orang yang sakit.
4. Benda yang digunakan untuk menutup mulut/hidung harus dibersihkan atau           dibuang ke tempat yang aman.
5. Hindari kontak langsung dengan cairan tubuh. Bila kontak terjadi, bersihkan           tangan segera setelah kontak.
6. Kebersihan tangan dapat dilakukan dengan mencuci tangan dengan sabun dan    air atau antiseptik berbasis alkohol. Ada kekhawatiran keamanan (yaitu tertelan,   bahaya kebakaran) yang harus diperhatikan sebelum antiseptik berbasis alkohol     dapat dianjurkan untuk digunakan di rumah.
7. Orang yang lebih berisiko mengalami penyakit berat tidak boleh merawat orang     yang sakit atau berdekatan dengan orang yang sakit tersebut. Untuk influenza       musiman, orang yang lebih berisiko meliputi orang yang menderita penyakit           jantung, paru, atau ginjal, diabetes, gangguan kekebalan, penyakit darah              (misalnya anemia sel sabit), wanita hamil, orang berusia >65 tahun atau anak-       anak berusia <2 tahun.

E. Pengobatan ISPA
Pengobatan ISPA dapat dilakukan berdasarkan klasifikasi ISPA sebagai berikut (Rasmaliah, 2004):
1.   Pneumonia berat (ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada ke dalam)
Pengobatan: dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotic parenteral, oksigendan sebagainya.
2.   Pneumonia (ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat)
Pengobatan: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita tidakmungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kontrimoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
3. Bukan pneumonia (ditandai secara klinis oleh batuk, pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dada ke dalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis, dan tonsillitis tergolong bukan pneumonia)
Pengobatan: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan dirumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein, dekstrometorfan dan antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari.


Daftar Pustaka
Kristina, Ni Nyoman. 2013. Mengenal Penyakit Pneumonia (ISPA). http://www.diskes.baliprov.go.id/id/MENGENAL-PENYAKIT-PNEUMONIA--ISPA-//.
Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. 2002. Musim Kemarau, Anak Rawan Terkena ISPA. http://www.pdpersi.co.id//.
Rasmaliah. 2008. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Dan Penganggulangannya. http://library.usu.ac.id//.
Saragih, Radesman. 2015. Penderita ISPA Di Kota Jambi Terus Meningkat. http://www.beritasatu.com/nasional/305791-penderita-ispa-di-kota-jambi-terus-meningkat.html//.
Warung Masyarakat Informasi Indonesia. 2009. Infeksi Saluran Nafas Akut (ISPA). http://www.warmasif.co.id//.


WHO. 2007.  Pencegahan dan pengendalian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi di fasilitas pelayanan kesehatan. http://www.who.int/iris/bitstream/10665/.../WHO_CDS_EPR_2007.6_ind.pdf//.

Artikel Anemia (Pengertian, Gejala, Penyebab, Bahaya, Pencegahan dan Penanganan

Anemia
A. Pengertian Anemia
        Menurut Bahasa Yunani, anemia berarti tanpa darah. Anemia adalah suatu kondisi saat jumlah sel darah merah atau kandungan hemoglobin (suatu senyawa protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah atau hemoglobin bertugas sebagai media yang membawa oksigen dari paru-paru dan menghantarkan ke seluruh bagian jaringan tubuh. Sel darah merah diproduksi di sum-sum tulang. Bahan bakunya berasal dari zat gizi dari bahan makanan, termasuk berbagai vitamin (B2, B12) dan mineral (zat besi).

B. Gejala anemia 
  • 5 L : Lemah, Letih, Lesu, Lelah, Lalai.
  • Nafas pendek
  • Sering sakit kepala
  • Tidak nafsu makan
  • Sulit berkonsentrasi
  • Sering mual
  • Mata menguning
  • Sariawan & bibir pecah-pecah
C. Penyebab anemia 

  • Pendarahan (luka, haid berlebihan, dan cacing tambang
  • Kerusakan sel darah merah yang berlebihan (disebabkan reaksi transfuse yang tidak cocok)
  • Produksi sel darah merah yang berkurang
  • Malnutrisi (Kurang gizi)
  • Gagal ginjal
  • Kerusakan sum-sum tulang.

D. Mengapa wanita lebih mudah terkena anemia ?

  • Wanita membutuhkan zat besi 2x lebih banyak daripada pria karena mengalami haid setiap bulannyadan akan kehilangan darah pada saat melahirkan.
  • Wanita umumnya kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti daging, ikan, hati, tempe, sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan serta buah.
  • Zat besi dibutuhkan tubuh untuk memproduksi darah dalam darah.

E. Bahaya Anemia 
1. Pada anak dan remaja
  • Anak dan remaja menjadi kurus dan kurang cerdas
  • Pertumbuhan tubuh terhambat sehingga tinggi badan tidak maksimal
2. Pada ibu hamil dan menyusui

  • Dapat menimbulkan perdarahan sebelum dan sesudah melahirkaN
  • Berat badan bayi yang dilahirkan rendah
  • Kematian ibu saat melahirkan
  • Pada ibu menyusui dapat menyebabkan menurunan jumlah ASI dan kualitasnya

F. Cara pencegahan dan penanganan anemia 
1. Makan makanan yang mengandung zat besi :

  • Sayuran berwarna hijau seperti bayam, daun kangkung, sawi, daun katuk, daun singkong
  • Makana hewani seperti ikan, daging, hati, ayam
  • Kacang-kacangan seperti tempe, kacang merah, kacang hijau, kacang panjang, kecipir, buncis
  • Buah-buahan seperti jeruk, pepaya, rambutan, belimbing


2. Jika dibutuhkan minum Tablet Tambah Darah (TTD) seminggu sekali atau setiap hari selama haid
3. Istirahat yang cukup
4. Hindari stress
5. Perbanyak minum air putih

Friday, 16 December 2016

Makalah Pengaruh Asap Kebakaran Hutan terhadap Kesehatan

TUGAS TERSTRUKTUR
MATA KULIAH IPA KESEHATAN
PAPER
PENGARUH ASAP KEBAKARAN HUTAN
TERHADAP KESEHATAN


Disusun oleh:
Nama  : Fitria Nafisatin Nahari
NIM    : I1A015032
Kelas   : B (IPA Kesehatan)

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PERGURUAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2015




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kejadian kebakaran hutan sering terjadi berulang di Indonesia. Wilayah yang sering mengalaminya adalah Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran hutan bisa terjadi secara alami atau disebabkan perbuatan manusia. Hal ini harus mendapat perhatian khusus oleh pemerintah karena dampak dari kebakaran hutan meluas pada aspek lingkungan, social, ekonomi dan juga kesehatan. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan di daerah tersebut saja tetapi juga di regional Asia Tenggara.
Dampak negatif dari kebakaran hutan tidak hanya akan dirasakan dalam jangka waktu yang pendek tetapi juga akan memiliki dampak untuk jangka waktu yang panjang, tidak terkecuali dalam hal kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah-daerah tersebut. Asap kebakaran hutan menyebabkan kualitas udara menjadi buruk sehingga menyebabkan balita hingga usia lanjut terkena gangguan kesehatan, khususnya penyakit pada saluran pernapasan.
1.2  Rumusan Masalah
            1)      Apa penyebab terjadinya asap kebakaran hutan?
            2)      Apa dampak terjadinya asap kebakaran hutan terhadap kesehatan?
            3)      Bagaimana upaya pencegahan dan penanganan terjadinya asap kebakaran hutan?
1.3  Tujuan Pembahasan
            1)      Untuk mengetahui penyebab terjadinya asap kebakaran hutan
            2)      Untuk mengetahui dampak terjadinya asap kebakaran hutan terhadap kesehatan
            3)      Untuk mengetahui upaya pencegahan dan penanganan terjadinya asap kebakaran hutan



BAB II
LANDASAN TEORI 
2.1 Pengertian Asap
Asap merupakan perpaduan atau campuran karbondioksida, air, zat yang terdifusi, zat partikulat, hidrokarbon, zat kimia organik, nitrogen oksida dan mineral. Komposisi asap tergantung dari banyaknya factor, yaitu jenis bahan pembakar, kelembapan, temperatur api, kondisi angin dan hal lain yang mempengaruhi cuaca, baik asap tersebut baru atau lama. Jenis kayu dan tumbuhan lain yang terdiri dari selulosa, lignin, tannin, polifenol, minyak, lemak, resin, lilin dan tepung akan membentuk campuran berbeda saat terbakar (WHO, 2005).
2.2 Pengertian Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan (wild fire) adalah keadaan api menjadi tidak terkontrol dalam vegetasi yang mudah terbakar pada daerah pedesaan atau daerah yang luas. Kebakaran hutan berbeda dengan kebakaran biasa, dimana kebakaran hutan dapat meluas lebih jauh dari tempat semula dan dapat berganti arah tanpa diduga.
Kebakaran hutan adalah sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar, tetapi juga dapat memusnahkan rumah-rumah dan lahan pertanian disekitarnya. Penyebab umum termasuk petir, kecerobohan manusia dan pembakaran. Musim kemarau dan pencegahan kebakaran hutan kecil adalah penyebab utama kebakaran hutan besar.
2.3 Pengertian Kesehatan
            Menurut UU No. 36 tahun 2009, kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
a.       Kesehatan fisik: secara obyektif tidak tampak sakit, tidak ada keluhan dan semua organ tubuh berfungsi dengan normal.
b.      Kesehatan mental (komponen pikiran , emosional, dan spiritual)
·         Pikiran sehat tercermin dari cara berfikir
·         Emosi sehat tercermin dari cara mengekspresikan emosi
·         Spiritual sehat tercermin dari praktik keagamaan seseorang
c.       Kesehatan sosial: mampu bersosialisasi dan berhubungan baik dengan orang lain/kelompok.
d.      Kesehatan ekonomi: produktif memberikan kontribusi secara finansial

BAB III
PEMBAHASAN 
3.1 Penyebab terjadinya asap kebakaran hutan
Kebakaran hutan bisa terjadi secara alami atau disebabkan perbuatan manusia. Kebakaran yang ditimbulkan akibat aktivitas manusia pun bisa terjadi secara sengaja atau tidak sengaja. Berikut penjelasannya:
a. Penyebab alami
Kebakaran hutan secara alami banyak dipicu oleh petir, lelehan lahar gunung api, dan gesekan antara pepohonan. Sambaran petir dan gesekan pohon bisa berubah menjadi kebakaran bila kondisi hutannya memungkinkan, seperti kekeringan yang panjang. Di hutan-hutan subtropis seperti Amerika Serikat dan Kanada, sambaran petir dan gesekan ranting pepohonan sering memicu kebakaran. Namun di hutan hujan tropis seperti Indonesia, hal ini sedikit mustahil. Karena terjadinya petir biasanya akan diiringi oleh turunnya hujan atau petir terjadi di sepanjang hujan. Sehingga sangat tidak mungkin menimbulkan kebakaran. Pemicu alamiah lainnya adalah gesekan antara cabang dan ranting pepohonan. Hal ini pun biasanya hanya terjadi di hutan-hutan yang kering. Hutan hujan tropis memiliki kelembaban tinggi sehingga kemungkinan gesekan antar pohon menyebabkan kebakaran sangat kecil.
b. Disebabkan manusia
Kebakaran hutan yang dipicu kegiatan manusia bisa diakibatkan dua hal, secara sengaja dan tidak sengaja. Kebakaran secara sengaja kebanyakan dipicu oleh pembakaran untuk membuka lahan dan pembakaran karena eksploitasi sumber daya alam. Sedangkan kebakaran tak disengaja lebih disebabkan oleh kelalaian karena tidak mematikan api unggun, pembakaran sampah, membuang puntung rokok, dan tindakan kelalaian lainnya.
Di Indonesia, 99% kejadian kebakaran hutan disebabkan oleh aktivitas manusia baik sengaja maupun tidak sengaja. Hanya 1% diantaranya yang terjadi secara alamiah. Sejak era tahun 1980-an pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri diduga menjadi penyebab terjadinya kebakaran hutan secara besar-besaran.
3.2 Dampak terjadinya asap kebakaran hutan terhadap kesehatan
Asap kebakaran hutan mengandung sejumlah gas dan partikel kimia yang dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan manusia, diantaranya:
a.       Partikulat
Partikulat ini dapat terinhalasi melalui sitem pernapasan, terjadinya akut, dengan mengiritasi bronkus, menyebabkan inflamasi dan reaktifitas meningkat. Partikulat ini juga menyebabkan terjadinya berkurangnya bersihan mukosilier, mengurangi respon makrofag dan imunitas local serta reaksi fibrotic. Efek potensial pada kesehatan adalah mengi, asma eksaserbasi, infeksi saluran nafas, bronchitis kronik, PPOK (Fikri,dkk, 2012).
b.      Karbon monoksida.
Zat ini berikatan dengan hemoglobin menghasilkan karboksi hemoglobin yang mengurangi transport oksigen ke organ vital dan menyebabkan gangguan janin. Sebagaimana kita ketahui seorang ibu hamil akan mengalami anemia fisiologis. Kadar hemoglobin yang kurang dalam darah dan diperberat dengan turunnya kadar oksigen dalam darah menyebabkan ibu hamil kekurangan oksigen bagi dirinya dan untuk menyuplai bayinya. Hal ini menyebabkan kelahiran berat badan bayi lahir rendah dan meningkatnya kasus kematian perinatal ((Fikri dkk, 2012). Dengan kadar oksigen yang sangat kurang hal ini mempengaruhi kerja sel otak khususnya balita. Otak sangat sensitive terhadap kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen dalam waktu 5 menit dapat menyebabkan kematian sel otak secara permanen. Hal ini la yang menyebabkan pada jangka panjangnya kecerdasan anak akan menurun.
c.       Hidrokarbon aromatic polisiklik (Benzo-alpyrene).
Zat ini bekerja sebagai karsinogen yang dapat menyebabkan kanker paru, kanker mulut, nasofaring dan laring.
d.      Nitrogen dioksida.
Zat ini merupakan pajanan akut yang menyebabkan reaktivitas bronkus. Pajanan kronik dapat meningkatkan kerentanan infeksi bakteri dan virus. Efek potensial pada kesehatan menimbulkan mengi, asma eksaserbasi, infeksi saluran nafas, berkurangnya fungsi paru anak.
e.       Sulfur dioksida.
Zat ini sebagai pajanan akut yang menyebabkan reaktivitas bronkus. Hal ini member dampak bagi kesehatan, menimbulkan mengi, asma eksaserbasi, PPOK eksaserbasi, penyakit kardiovaskuler.
f.       Kondesat asap biomass, termasuk hidrokarbon aromatic polisiklik dan ion metal.
Zat ini jika masuk ke mata dan diabsorbsi oleh lensa, maka akan terjadi perubahan oksidatif. Hal ini dapat menyebabkan katarak pada mata.

Udara yang tercemar akan masuk ke dalam tubuh manusia sehingga mempengaruhi paru-paru dan saluran napas, komponennya juga diedarkan ke seluruh tubuh, artinya selain terhisap langsung manusia dapat menerima akibat buruk polusi ini dan secara tidak langsung dapat mengkonsumsi zat makanan atau air yang terkontaminasi.
Polusi di dalam rumah mempunyai dampak lebih besar, karena penghuni rumah akan terpajan asap dalam konsentrasi tinggi selama bertahun-tahun. Pajanan kebakaran hutan biasanya berlangsung selama 4-5 bulan dalam setahun dan intesitasnya tergantung pada luas kebakaran hutan. Asap menimbulkan iritasi mata, kulit dan gangguan saluran pernapasan, yang lebih berat fungsi paru-paru berkurang, bronchitis, asma eksaserbasi dan kematian dini.  Selain itu konsentrasi yang tinggi partikel-partikel iritasi pernapasan dapat menyebabkan batuk-batuk terus, batuk berdahak, kesulitan bernapas dan radang paru. Kondisi kronik terpajan polusi udara beracun dengan konsentrasi tinggi sedikit meningkatkan resiko kanker.

3.3 Pencegahan dan Penanganan
            1)      Upaya Pencegahan
a.       Memantapkan kelembagaan.
b.      Melengkapi perangkat lunak berupa pedoman dan petunjuk teknis pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan
c.       Melengkapi perangkat keras berusa peralatan pencegahan dan pemadam kebakaran
d.      Melakukan pelatihan pengendalian kebakaran hutan bagi aparat pemerintah, tenaga BUMN dan perusahaan kehutanan serta masyarakat sekitar hutan
e.       Kampanye dan penyuluhan melalui berbagai Apel Siaga pengendalian kebakaran hutan
f.       Pemberian pembekalan kepada pengusaha (HPH, HTI, perkebunan dan Transmigrasi), Kanwil Dephut, dan jajaran Pemda oleh Menteri Kehutanan dan Menteri Negara Lingkungan Hidup
g.      Dalam setiap persetujuan pelepasan kawasan hutan bagi pembangunan non kehutanan, selalu disyaratkan pembukaan hutan tanpa bakar.
             2)      Upaya penanganan
a.       Penggunaan masker. Masker ini harus dipasang cukup rapat sehingga udara tidak dapat masuk di sela-sela pinggiran masker dan kulit wajah
b.      Mengurangi aktivitas di luar rumah. Dengan mengurangi aktivitas di luar rumah maka resiko terpajan dengan polutan akan berkurang.
c.       Minum air putih lebih banyak, tujuannya membersihkan kabut asap yang telah masuk ke dalam tubuh.
d.      Menutup makanan atau penampungan air minum yang ada di rumah agar terlindungi dari polusi kabut asap.
e.       Usahakan agar asap tidak masuk ke ruang gedung atau rumah atau ruang tertutup lainnya.
f.       Konsumsi makanan yang menyehatkan dan istirahat yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh dalam menangkal dampak buruk dari asap.


BAB IV
PENUTUP 
4.1 Kesimpulan
Kebakaran hutan bisa terjadi secara alami atau disebabkan perbuatan manusia. Kebakaran yang ditimbulkan akibat aktivitas manusia pun bisa terjadi secara sengaja atau tidak sengaja. Asap kebakaran hutan yang mengandung sejumlah gas dan partikel kimia dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan manusia Oleh karena itu, diperlukan adanya upaya pencegahan dan penanganan terjadinya asap kebakaran hutan untuk meminimalisir dampak negatif yang dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan manusia
4.2 Saran
            Sebagai manusia kita harus lebih peduli terhadap lingkungan di sekitar kita dengan terus menjaga dan melestarikannya. Karena jika kita merusaknya, seperti membakar hutan maka pastilah akan berdampak pada kehidupan kita juga.
Lalu sebaiknya kita juga harus mengetahui bagaimana upaya pencegahan dan penanganan terjadinya asap kebakaran hutan agar kita bisa meminimalisir dampak negatif yang dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan manusia.




DAFTAR PUSTAKA
https://jurnalbumi.com/kebakaran-hutan/. Diakses pada 28 Desember 2015
Faisal, Fikri. dkk. 2012. Dampak asap kebakaran hutan pada pernafasan. Jakarta: Fakultas    Kedokteran Universitas Indonesia
Sudarma, Momon. 2008. Sosiologi untuk Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika
Syaufina, L. 2008. Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. Malang: Bayumedia
Tacconi, Luca. 2003. Kebakaran Hutan di Indonesia (Penyebab, Biaya dan Implikasi                Kebijakan). Bogor: Cifor